Berawal dari jarkoman Goyil ke seluruh punggawa kelas untuk main, walaupun hanya sedikit yg merespon, berkumpulah Goyil, Firman, dan Hakim di depan pendopo. Saya yg saat itu sedang rapat evaluasi Peringatan Hardiknas, diajak mereka untuk segera merapat. Baru setelah selesai, Saya bergabung.
Tujuan yg belum jelas membuat Kami hendak mengajak beberapa orang lagi untuk ikut. Lalu datang Ridwan yg saat itu satu visi dengan Kami, sama-sama ga ada gawe. Karena jumlah yang masih ganjil, berangkatlah menuju kost-an Manalu untuk menggenapkan jumlah, meski perlu waktu yang lama untuk membujuk, akhirnya Ia memutuskan untuk ikut.
Karena tujuan belum terpikirkan, Kami berunding di depan Kost memutuskan tempat mana yang akan dituju. Ide pertama datang dari Ridwan, yang mengajak ke Punclut untuk makan dan sekedar menikmati udara. Semua menggangguk hayu namun penuh ragu, kebiasaan orang Indonesia yang Hayu-Hayu Cicing membuat waktu tak terasa berlalu, menunjukkan pukul 10 malam. Lalu datang ide gila untuk menyambangi rumah Firman di Subang, “Yah, kagok edan,” kata Erdit kala itu.
Mungkin karena sudah larut malam, Kami lalu memutuskan untuk #KagokEdaaaaan daaan Berangkatlah Kami saat itu juga.
———
Diawali dengan doa bersama untuk kelancaran perjalanan, dari meeting point di Kost-an Manalu, dengan Goyil sebagai Trip Leader, Kami memulai perjalanan melalui Ciwaruga atas, Cihideung, lalu tembus ke Lembang. Tanki motor yang sudah E membuat Kami mengisi bahan bakar sembari buang air kencil di SPBU pertama yang Kami sambangi.
Perjalanan berlanjut.
Medan perjalanan yang berkelok-kelok setelah melewati Gn. Tangkuban Perahu membuat Saya was-was, apalagi setelah melihat mobil yang menabrak pembatas. Namun dasar Goyil dan Ridwan (Mereka yg membawa motor selain Saya) yang tetap melaju kencang meninggalkan Saya dan Firman jauh dibelakang. Berkali-kali mereka berhenti menunggu karena jarak dengan motor paling belakang kejauhan, ha! salah sendiri broo.
Setelah bertemu, perjalanan Kami lanjutkan sampai datanglah kabar dari Ibu Firman bahwa di rumah cuma ada 3 potong Ayam. Walaaaah, tapi tak apa, “Nanti kalau udah di Subang, Kita cari Sateeeee,” baiklah, jauh-jauh ke Subang tapi ga ada makanan.
Posisi menunjukan Kami berada di tanjakan Emen, 2-4 km setelah portal Gn. Tangkuban Perahu, mata yang sudah berat mau tak mau membuat Saya meminta Firman yang jadi supir. Oke setelah itu, tiba-tiba saja sudah di Subang, entah berapa lama Saya tertidur. Tapi ya, udah di Subang!
Di alun-alun Firman putuskan untuk membeli makanan disini saja, karena walaupun sudah menunjukkan pukul 01.30 malam, masih/sudah banyak emang-emang yang menjejali dagangannya.

Dini hari di Alun-Alun Subang.
“Bagaimana bisa Kau melakukan sesuatu kepada seseorang, dimana jika dirimu sendiri yang menerima perlakuan itu, Kau pun tidak akan menyukainya?” - Faldo Maldini.
Ga perlu ngelak, ini masih terjadi di Kampus Kita tercinta. #Kaderisasi
Pikiran ini terbit sejak dahulu kala, sebelum disunat, sebelum masuk SMP, juga sebelum mimpi basah pertama diturunkan Tuhan.
“Gimana kalau nanti ada penghuni surga yg minta seluruh kehidupan dari nabi Adam diulang kembali. Bisa ga ya? Kan di surga minta apa pun dikasih.”
Well, Wallahuallam :)